Tim Sarif-Qalby Resmi Laporkan Pelanggaran KPU Jeneponto ke DKPP

Tim Sarif-Qalby Resmi Laporkan Pelanggaran KPU Jeneponto ke DKPP

 

Newsintelijen.com

Pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati, Muhammad Sarif – Moch Noer Alim Qalby resmi melaporkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Jeneponto ke Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP).

 

 

Jalur ini ditempuh Tim Sarif – Qalby menyusul adanya dugaan kelalaian dan ketidakpatuhan terhadap rekomendasi yang dikeluarkan Bawaslu terkait pemungutan suara ulang (PSU) di Pilkada Serentak Tahun 2024.

 

Bahkan disinyalir, KPU Kabupaten Jeneponto melakukan itu secara Terstruktur, Sistematis, dan Massif (TSM).

 

 

Dugaan itu pun dilaporkan berdasarkan aduan dugaan kelalaian dan ketidakpatuhan terhadap KPU Jeneponto yang tertuang dalam nomor registrasi 706/1-10/SET/-02/XII/2024.

 

Laporan itu dibuat dan diserahkan langsung LO Paslon Nomot Tiga Sarif – Qalby, Hardianto Haris di Kantor DKPP, Jl. Abdul Muis No. 2-4, Kelurahan Petojo Selatan, Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat sekira pukul 10.18 WIB, Selasa (10/12) malam.

Baca Juga :  Peduli Kesehatan Warga Binaan, Bhabinkamtibmas Menteng Ikuti Sosialisasi Pencegahan DBD

 

 

Hardianto mengungkapkan, sejumlah peristiwa kelalaian yang dianggap TSM ini, telah menciderai demokrasi pemilihan di Kabupaten Jeneponto.

 

Tak hanya itu, Hardianto juga menilai bahwa KPU Jeneponto sangat amburadul disertai berbagai kontroversi di khalayak publik.

 

“Banyak temuan di lapangan, dan kita anggap ini adalah pelanggaran berat bahkan mengarah pada TSM. Dan hari ini, kita secara resmi telah melaporkan KPU Jeneponto ke DKPP,” katanya.

 

 

Selain berbagai peristiwa dan temuan, tim paslon 03 ini juga meminta agar penyelenggara pemilu, seharusnya mengedepankan akuntabilitas dan integritas.

 

“Kami merasa perlu membawa hal ini ke DKPP, untuk memastikan akuntabilitas dan integritas penyelenggara pemilu. Apalagi, rekomendasi PSU yang dikeluarkan Bawaslu seharusnya dijalankan sesuai dengan aturan,” ujar Hardianto.

 

 

Ia menilai langkah KPU Jeneponto menolak PSU telah menimbulkan pertanyaan serius terhadap pelaksanaan prinsip-prinsip pemilu yang jujur, adil, dan transparan.

Baca Juga :  JAM-Intelijen Prof. Dr. Reda Manthovani: ”Fungsi Pengamanan Pembangunan Strategis Membantu  Menyelesaikan Permasalahan Terutama dari Aspek Hukumnya”

 

Selain itu, dokumen dan data pendukung terkait proses rekapitulasi suara di sejumlah TPS yang dipermasalahkan, diminta untuk diungkap ke publik demi memastikan transparansi.

 

 

Melalui laporan ini, tim tagline ‘Kita Bersama’ berharap, DKPP dapat segera melakukan pemeriksaan terhadap KPU Jeneponto dan memberikan sanksi tegas jika terbukti melanggar.

 

“Kami percaya DKPP, akan bertindak independen dan tegas untuk menangani laporan ini demi menjaga kepercayaan publik terhadap proses demokrasi,” tegasnya.

 

Langkah pelaporan ini merupakan bagian dari komitmen, untuk mengawal pelaksanaan pemilu yang bersih dan berkualitas sesuai dengan amanat undang-undang.

 

 

Diketahui, Bawaslu Sulawesi Selatan (Sulsel) mempertanyakan keputusan KPU Kabupaten Jeneponto, yang tidak melaksanakan rekomendasi pemungutan suara ulang (PSU) di delapan tempat pemungutan suara (TPS) pada Pilkada 2024.

 

Hal ini diungkapkan Ketua Bawaslu Sulsel, Mardiana, usai rekapitulasi suara Pilgub Sulsel di Makassar, Minggu (8/12/2024).

Baca Juga :  1.736 Anggota Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) Resmi Dilantik 

 

 

Menurut Mardiana, Jeneponto menjadi perhatian khusus karena terdapat sejumlah catatan peristiwa di TPS.

 

Salah satunya di TPS 005 Kelurahan Tolo Barat, Kecamatan Kelara, yang direkomendasikan PSU akibat adanya pemilih tidak memenuhi syarat namun diberi kesempatan memilih.

 

“Kenapa direkomendasikan PSU? Karena ada 51 pemilih DPK dalam kondisi abnormal,” jelasnya.

 

 

Selain itu, ditemukan pemilih yang mencoblos di dua TPS berbeda. Bawaslu menilai, pentingnya penjelasan KPU Jeneponto terkait alasan tidak melaksanakan PSU yang sudah direkomendasikan.

 

Untuk itu, PSU diminta dilakukan demi memastikan integritas dan kejelasan data pemilu. Saksi pemilu juga berhak mempertanyakan temuan ini untuk membuktikan keabsahannya.

 

 

Mardiana menegaskan, syarat pelaksanaan PSU telah diatur jelas dalam regulasi, termasuk jika ditemukan pemilih tidak terdaftar dalam daftar pemilih tetap (DPT) atau mencoblos di TPS yang berbeda.

Array
Related posts
Tutup
Tutup