Pakar Hukum Ungkap Indikasi Pidana Peluru Nyasar Polisi di Tangerang

Dosen Fakultas Hukum Ferry Fathurokhman mengungkap adanya indikasi pelanggaran atas kasus peluru nyasar atau tepatnya rekoset, pantulan proyektil nyasar polisi yang mengenai pasangan suami istri (pasutri) di Tangerang pada Selasa, 4 Juli 2023.

Indikasi dugaan pelanggaran tersebut, menurut Ferry, bisa dilihat dari sisi hukum pidana dan etika profesi dalam penggunaan senjata api.

“Ada dugaan dua pelanggaran dalam peristiwa itu, pertama hukum pidana dan etika profesi,” ucap Fery, Kamis. 6 Juli 2023 seperti dilansir dari Antara.  

Menurut dia, melihat rangkaian yang terjadi dari peristiwa itu telah masuk dalam unsur pelanggaran hukum pidana. Dimana ada kelalaian atau kealpaan penggunaan senjata yang mengakibatkan luka terhadap seseorang termasuk dalam kasus peluru nyasar.

Baca Juga :  Diduga oknum Kades samete otoriter dan tidak melibatkan perangkat desa dan BPD dalam merealisasikan DD.

Dalam hukum pidana, kata Ferry, suatu tindakan kelalaian, kesalahan, kurang hati-hati, atau kealpaan disebut dengan istilah “culpa” yang dimengerti sebagai kesalahan pada umumnya yang mempunyai arti teknis, yaitu semacam kesalahan si pelaku tindak pidana yang tidak seberat seperti kesengajaan, yaitu kurang berhati-hati sehingga akibat yang tidak disengaja terjadi.

Dari hal tersebut, tidak tertutup kemungkinan bagi seseorang atau petugas yang melakukan kealpaan akan dijatuhi sanksi pidana.

“Pertama Hukum pidana berkenaan dengan kelalaian yang mengakibatkan luka, diatur dalam Pasal 360 ayat (2) KUHP, ancamannya pidana penjara 9 bulan atau pidana kurungan 6 bulan. Kalau menimbulkan luka berat ancaman pidana penjaranya bisa 5 tahun,” katanya.

Kemudian, selain masuk unsur pidana. Pada insiden itu juga terdapat pelanggaran etika profesi yang terdapat pada pasal 8 kode etik dengan mengatur aparat penegak hukum harus menghormati segala aturan profesi, mencegah dan secara tegas menentang setiap pelanggarnya.

Baca Juga :  Pelanggaran Kode Etik Oknum Kepolisian di Duga Melakukan Intimidasi, Penyiksaan serta takut-takuti tersangka. Tidak Rahasia Publik lagi, minta Kapolri bersihkan dari Tubuh Polri. Bagaimana menurut pandangan seorang Lawyer muda Anggi Pratiwi S.H.,M.H ?

Kendati demikian, seharusnya aparat penegak hukum dalam melakukan segala tindakannya bisa dilakukan dengan kecermatan dan terukur.

“Kedua Etika profesi, seharusnya dalam melakukan tindakan dilakukan dengan kecermatan dan terukur,” jelasnya.

Ia menyarankan, pihak kepolisian agar melakukan penyelidikan lebih dalam dengan melakukan uji balistik terhadap proyektil yang mengenai pasutri tersebut.

“Ya perlu, memastikan bahwa peluru yang mengenai warga sipil adalah peluru yang keluar dari senjata polisi,” kata dia.

Sebelumnya, Dua warga asal Kabupaten Tangerang, Banten yang merupakan pasangan suami istri dilaporkan menjadi korban rekoset atau pantulan proyektil dari tembakan anggota polisi setempat.

Peristiwa peluru nyasar tersebut terjadi di Jalan Raya Serang, KM 22, Desa Cibadak, Kecamatan Cikupa, Kabupaten Tangerang, pada Selasa, 4 Juli 2023 sekitar pukul 14.00 WIB.

Baca Juga :  Kebal Hukum, Terduga Pengeroyok Anggota Dishub, Pengusaha Seafood Ali Action Masih Bebas Berkeliaran

“Kami langsung cek TKP, dan mengutamakan mengevakuasi atau membantu 2 orang korban  untuk segera mendapatkan perawatan medis,” kata Kapolresta Tangerang Kombes Sigit Dany Setiyono.

Ia menerangkan, peristiwa peluru nyasar tersebut berawal saat dua orang personel Polri yang mengendarai motor mencoba menghentikan laju satu unit mobil jenis minibus yang diduga merupakan pelaku tindak kejahatan.

sumber: https://metro.tempo.co/read/1747392/pakar-hukum-ungkap-indikasi-pidana-peluru-nyasar-polisi-di-tangerang

Array
Related posts
Tutup
Tutup